Gas mulia adalah unsur-unsur golongan VIIIA (18) dalam tabel periodik. Disebut mulia karena unsur-unsur ini sangat
stabil (sangat sukar bereaksi). Tidak ditemukan satupun senyawa alami dari gas
mulia. Menurut Lewis, kestabilan gas mulia
tersebut disebabkan konfigurasi elektronnya yang terisi penuh, yaitu
konfigurasi oktet (duplet untuk Helium).
Kestabilan gas mulia dicerminkan oleh energi ionisasinya yang sangat besar, dan
afinitas
elektronnya yang sangat rendah (bertanda positif). Para ahli zaman dahulu
yakin bahwa unsur-unsur gas mulia benar-benar inert. Pendapat ini
dipatahkan, setelah pada tahun 1962, Neil
Bartlett,
seorang ahli kimia dari Kanada berhasil membuat senyawa xenon, yaitu XePtF6.
Sejak itu, berbagai senyawa gas mulia berhasil dibuat.Gas mulia adalah gas yang mempunyai sifat
lengai, tidak reaktif, dan susah bereaksi dengan bahan kimia lain. Gas mulia
banyak digunakan dalam sektor . unsur-unsur yang terdapat dalam gas mulia yaitu
Helium (He), Neon (Ne), Argon(Ar), Kripton(Kr), Xenon (Xe), Radon (Rn). Gas-gas
ini pun sangat sedikit kandungannya di bumi. dalam udara kering maka akan
ditemukan kandungan gas mulia sebagai berikut :
Asal usul nama unsur gas mulia:
- Helium → Helios (Yunani) : matahari
- Argon → Argos (Yunani) : malas
- Neon → Neos (Yunani) : baru
- Kripton → Kriptos (Yunani) : tersembunyi
- Xenon → Xenos (Yunani) : asing
- Radon → Radium
- Helium → Helios (Yunani) : matahari
- Argon → Argos (Yunani) : malas
- Neon → Neos (Yunani) : baru
- Kripton → Kriptos (Yunani) : tersembunyi
- Xenon → Xenos (Yunani) : asing
- Radon → Radium
Helium = 0,00052 %
Neon = 0,00182 %
Argon = 0,934 %
Kripton = 0,00011 %
Xenon = 0,000008
Radon = Radioaktif*
Neon = 0,00182 %
Argon = 0,934 %
Kripton = 0,00011 %
Xenon = 0,000008
Radon = Radioaktif*
Tapi di alam semesta kandungan Helium paling banyak diantara gas
mulia yang lain karena Helium meupakan bahan bakar dari matahari.
Sejarah
Sejarah gas mulia awal dari penemuan
Cavendish pada tahun 1785. Cavendish menemukan sebagian kecil bagian udara
(kurang dari 1/200 bagian) sama sekali tidak bereaksi walaupun sudah melibatkan
gas-gas atmosfer.
Pada tahun 1894, seorang ahli kimia
Inggris bernama Lord Raleigh dan Sir William Ramsay mengidentifikasi zat baru
yang terdapat dalam udara. Sampel udara yang sudah diketahui mengandung
nitrogen, oksigen, dan karbon dioksida dipisahkan. Ternyata dari hasil
pemisahan tersebut, masih tersisa suatu gas yang tidak reaktif (inert). Gas tersebut tidak dapat
bereaksi dengan zat-zat lain sehingga dinamakan argon (dari bahasa Yunani argos yang berarti malas). Empat
tahun kemudian Ramsay menemukan unsur baru lagi, yaitu dari hasil pemanasan
mineral kleverit. Dari mineral
tersebut terpancar sinar alfa yang merupakan spektrum gas baru. Spektrum gas
tersebut serupa dengan garis-garis tertentu dalam spektrum matahari. Untuk itu,
diberi nama helium
(dari bahasa Yunani helios
berarti matahari).
Nama Helium sendiri merupakan saran dari
Lockyer dan Frankland. Pada saat ditemukan, kedua unsur ini tidak dapat
dikelompokkan ke dalam golongan unsur-unsur yang sudah oleh Mendeleyev karena
memiliki sifat berbeda. Kemudian Ramsey mengusulkan agar unsur tersebut
ditempatkan pada suatu golongan tersendiri, yaitu terletak antara golongan
halogen dan golongan alkali. Untuk melengkapi unsur-unsur dalam golongan
tersebut, pada tahun 1898 Ramsey dan Travers terus melakukan penelitian dan
akhirnya menemukan lagi unsur-unsur lainnya, yaitu neon (ditemukan dengan cara mencairkan udara dan melakukan pemisahan
dari gas lain dengan penyulingan bertingkat), kripton, dan xenon (ditemukan dalam residu yang
tersisa setelah udara cair hampir menguap semua / hasil destilasi udara cair).
Pada tahun 1900 Radon ditemukan oleh Friedrich Ernst Dorn, yang menyebutnya
sebagai pancaran radium. William Ramsay dan Robert Whytlaw-Gray menyebutnya
sebagai niton serta menentukan kerapatannya sehingga mereka menemukan Radon
adalah zat yang paling berat di masanya (sampai sekarang). Nama Radon sendiri
baru dikenal pada tahun 1923. Radon amat sedikit jumlahnya di atmosfer
atau udara. Dan sekalipun ditemukan akan cepat berubah menjadi unsur lain,
karena radon bersifat radioaktif. unsur gas mulia
terbanyak di alam semesta adalah helium (pada bintang-bintang) karena
Helium merupakan bahan bakar dari matahari.
Pada masa itu, golongan tersebut
merupakan kelompok unsur-unsur yang tidak bereaksi dengan unsur-unsur lain
(inert) dan diberi nama golongan unsur gas mulia. Di tahun 1898, Huge Erdmann
mengambil nama Gas Mulia (Noble Gas)
dari bahasa Jerman Edelgas
untuk menyatakan tingkat kereaktifan Gas Mulia yang sangat rendah. Nama Noble dianalogikan dari Noble Metal (Logam Mulia), emas, yang
dihubungkan dengan kekayaan dan kemuliaan.
Para ahli zaman dahulu yakin bahwa
unsur-unsur gas mulia benar-benar inert. Pendapat ini dipatahkan, setelah pada tahun 1962, Neil
Bartlett, seorang ahli kimia dari Kanada
berhasil membuat senyawa xenon, yaitu XePtF6. Sejak itu, berbagai
senyawa gas mulia berhasil dibuat. Dan akhirnya istilah untuk menyebut zat-zat
telah berganti. Yang awalnya disebut gas inert (lembam) telah berganti menjadi
gas mulia yang berarti stabil atau sukar bereaksi. Senyawa
gas mulia yang ditemukan pertama kali adalah XePtF6.
Sifat-Sifat Halogen
Sifat Atomik
A. Jari-Jari Atom
Dalam satu golongan,
jari-jari atom unsur-unsur gas mulia dari atas ke bawah semakin besar karena
meskipun muatan inti bertambah positif, namun jumlah kulit semakin banyak.
Keadaan ini menyebabkan gaya tarik menarik inti terhadap elektron semakin
lemah, akibatnya jari-jari atom bertambah besar.
B. Energi Ionisasi
Energi Ionisasi
unsur-unsur golongan gas mulia dari atas ke bawah cenderung semakin kecil. Hal
ini dikarenakan meski muatan inti bertambah positif, namun jari-jari atom
bertambah besar. Keadaan ini menyebabkan gaya tarik menarik inti terhadap
elektron terluar semakin lemah sehingga energi ionisasi semakin berkurang
C. Keelektronegatifan
Nilai keelektronegatifan
He, Ne, dan Ar tidak ada, sedangkan nilai keelektronegatifan berkurang dari Kr
ke Rn
D. Bilangan Oksidasi
Nilai bilangan oksidasi
He, Ne dan Ar adalah nol, sedangkan Kr, Xe, dan Rn memiliki beberapa bilangan
oksidasi
Sifat Fisis
Selain memiliki
karakteristik yang khas pada sifat atomik, gas mulia juga memiliki
karakteristik yang khas untuk sifat fisisnya. Beberapa sifat fisis gas mulia
dirangkum dalam tabel di bawah ini
|
Helium
|
Neon
|
Argon
|
Kripton
|
Xenon
|
Radon
|
|
|
Nomor atom
|
2
|
10
|
18
|
32
|
54
|
86
|
|
Elektron
valensi
|
2
|
8
|
8
|
8
|
8
|
8
|
|
Jari-jari
atom(วบ)
|
0,50
|
0,65
|
0,95
|
1,10
|
1,30
|
1,45
|
|
Massa atom
(gram/mol)
|
4,0026
|
20,1797
|
39,348
|
83,8
|
131,29
|
222
|
|
Massa jenis
(kg/m3)
|
0.1785
|
0,9
|
1,784
|
3,75
|
5,9
|
9,73
|
|
Titik didih (0C)
|
-268,8
|
-245,8
|
-185,7
|
-153
|
-108
|
-62
|
|
Titikleleh (0C)
|
-272,2
|
-248,4
|
189,1
|
-157
|
-112
|
-71
|
|
Bilangan
oksidasi
|
0
|
0
|
0
|
0;2
|
0;2;4;6
|
0;4
|
|
Keelekronegatifan
|
-
|
-
|
-
|
3,1
|
2,4
|
2,1
|
|
Entalpi
peleburan (kJ/mol)
|
*
|
0,332
|
1,19
|
1,64
|
2,30
|
2,89
|
|
Entalpi
penguapan (kJ/mol)
|
0,0845
|
1,73
|
6,45
|
9,03
|
12,64
|
16,4
|
|
Afinitas
elektron (kJ/mol)
|
21
|
29
|
35
|
39
|
41
|
41
|
|
Energi
ionisasi (kJ/mol)
|
2640
|
2080
|
1520
|
1350
|
1170
|
1040
|
*= Helium
dipadatkan dengan cara menaikkan tekanan bukan menurunkan suhu.
Dari data di atas, kita dapat melihat adanya
keteraturan berikut :
A. Kerapatan bertambah
dari He ke Rn
Nilai kerapatan gas
mulia dipengaruhi oleh massa atom, jari-jari atom, dan gaya London. Nilai
kerapatan semakin besar dengan pertambahan masa atom dan kekuatan gaya London,
dan sebaliknya semakin kecil dengan pertambahan jari-jari atom. Karena nilai
kerapatan gas mulia bertambah dari He ke Rn, maka kenaikan nilai massa atom dan
kekuatan gaya London dari He ke Rn lebih dominan dibandingkan kenaikan
jari-jari atom.
B. Titik leleh dan titik
didih bertambah dari He ke Rn
Hal ini dikarenakan
kekuatan gaya London bertambah dari He ke Rn sehingga atom-atom gas mulia
semakin sulit lepas. Dibutuhkan energi, dalam hal ini suhu yang semakin besar
untuk mengatasi gaya London yang semakin kuat.
C. Daya hantar panas
berkurang dari He ke Rn
Hal ini dikarenakan
kekuatan gaya London bertambah dari He ke Rn. Dengan kata lain, partikel
relatif semakin sulit bergerak sehingga energi, dalam hal ini panas, akan
semakin sulit pula untuk ditransfer.
Konfigurasi elektron gas mulia
|
Unsur
|
Nomor Atom
|
Konfigurasi
Elektron
|
|
He
|
2
|
1s2
|
|
Ne
|
10
|
[He] 2s2 2p6
|
|
Ar
|
18
|
[Ne] 3s2 3p6
|
|
Kr
|
36
|
[Ar] 4s2 3d10 4p6
|
|
Xe
|
54
|
[Kr] 5s2 4d10 5p6
|
|
Rn
|
86
|
[Xe] 6s2 5d10 6p6
|
Karena konfigurasi elektronnya yang
stabil gas mulia juga biasa digunakan untuk penyingkatan konfigurasi elektron
bagi unsur lain.
contoh :
Br = 1s2 2s2 2p6 3s2
3p6 4s2 3d10 4p5
menjadi
Br = [Ar] 4s2 3d10 4p5
Dua elektron dari He membuat subkulit s
menjadi penuh dan unsur-unsur gas mulia yang lain pada kulit terluarnya
terdapat 8 elektron karena kulit terluarnya telah penuh maka gas mulia bersifat
stabil dan tidak reaktif. Jadi afinitas
elektronnya mendekati nol.
Sifat Kimia
|
Gas Mulia
|
Reaksi
|
Nama senyawa yang terbentuk
|
Cara peraksian
|
|
Ar(Argon)
|
Ar(s) + HF → HArF
|
Argonhidroflourida
|
Senyawa ini dihasilkan oleh fotolisis dan
matriks Ar padat dan stabil pada suhu rendah
|
|
Kr(Kripton)
|
Kr(s) + F2 (s)
→ KrF2 (s)
|
Kripton flourida
|
Reaksi ini dihasilkan dengan cara mendinginkan
Kr dan F2pada suhu -196 0C lalu diberi loncatan muatan
listrik atau sinar X
|
|
Xe(Xenon)
|
Xe(g) + F2(g) → XeF2(s) Xe(g) + 2F2(g) → XeF4(s) Xe(g) + 3F2(g)→ XeF6(s) XeF6(s) + 3H2O(l) → XeO3(s) + 6HF(aq)6XeF4(s) + 12H2O(l) → 2XeO3(s) + 4Xe(g) + 3O(2)(g) + 24HF(aq) |
Xenon flourida
Xenon oksida
|
XeF2 dan XeF4 dapat
diperoleh dari pemanasan Xe dan F2pada tekanan6 atm, jika umlah peraksi F2 lebih besar maka akan diperoleh XeF6
XeO4 dibuat dari reaksi disproporsionasi(reaksi
dimana unsur pereaksi yang sama sebagian teroksidasi dan sebagian lagi
tereduksi) yang kompleks dari larutan XeO3 yang bersifat alkain
|
|
Rn(Radon)
|
Rn(g) + F2(g) → RnF
|
Radon flourida
|
Bereaksi secara spontan.
|
Unsur-unsur gas mulia
1. Helium (He)
Helium (He) adalah unsur kimia
yang tak berwarna, tak berbau, tak berasa, tak beracun, hampir inert, monatomik, dan merupakan
unsur pertama pada seri gas
mulia dalam tabel periodik
dan memiliki nomor
atom 2. Di Mars hanya sedikit Helium. Titik didih
dan titik leburnya merupakan yang terendah dari unsur-unsur lain dan ia hanya
ada dalam bentuk gas kecuali dalam kondisi "ekstrem". Kondisi ekstrem
juga diperlukan untuk menciptakan sedikit senyawa
helium, yang semuanya tidak stabil pada suhu dan tekanan standar.
Helium memiliki isotop
stabil kedua yang langka yang disebut helium-3. Sifat dari cairan varitas
helium-4;
helium I dan helium II; penting bagi para periset yang mempelajari mekanika kuantum
(khususnya dalam fenomena superfluiditas) dan bagi mereka yang
mencari efek mendekati suhu nol absolut
yang dimiliki benda
(seperti superkonduktivitas).
Helium
adalah unsur kedua terbanyak dan teringan di jagad raya
dan salah satu unsur yang diciptakan pada saat nukleosintesis Big Bang.
Dalam Jagad Raya modern hampir seluruh helium baru diciptakan dalam proses fusi nuklir
hidrogen di dalam bintang.
Di Bumi,
unsur ini diciptakan oleh peluruhan
radioaktif dari unsur yang lebih berat (partikel alfa
adalah nukleus helium). Setelah penciptaannya, sebagian darinya terkandung di
udara (gas alami) dalam konsentrasi sampai 7% volume. Helium dimurnikan dari
udara oleh proses pemisahan suhu rendah yang disebut distilasi fraksional.
Pada
1868,
astronom Perancis Pierre Jules Cรฉsar Janssen mendeteksi
pertama kali helium sebagai signatur garis spektral
kuning yang tak diketahui dari cahaya dari gerhana matahari.
Sejak itu kandungan helium besar banyak ditemukan di ladang gas alam di Amerika Serikat,
yang merupakan penyedia gas terbesar. Helium digunakan dalam kriogenik,
sistem pernafasan laut dalam, untuk mendinginkan magnet superkonduktor,
dalam "penanggalan helium",
untuk pengembangan balon,
untuk mengangkat kapal
udara dan sebagai gas pelindung untuk penggunaan
industri (seperti "pengelasan busar")
dan penumbuhan wafer silikon).
Menghirup sejumlah kecil gas ini akan menyebabkan perubahan sementara kualitas
suara seseorang.
2. Neon
(Ne)
Neon (Ne) adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang
memiliki lambang Ne dan nomor atom 10. Neon termasuk kelompok gas mulia yang tak
berwarna dan lembam (inert). Unsur Ne ditemukan pertama kali oleh William
Ramsay dan Morris William Travers tahun 1898 di Inggris.
3. Argon (Ar)
Argon (Ar) tidak berwarna dan tidak berbau, baik dalam bentuk gas
maupun cairan. Argon dipandang sebagai gas yang sangat inert dan diketahui
tidak dapat membentuk campuran kimia. Unsur Ar ditemukan pertama kali oleh Lord
Rayleigh dan William Ramsey pada tahun 1894 di Scoutlandia.
4. Kripton (Kr)
Kripton (Kr) adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang
memiliki lambang Kr dan nomor atom 36. Sebuah warna, tanpa bau, dan sering
digunakan dengan gas langka lain di lampu pijar. Gas krypton ditemukan pertama
kali oleh sir William Ramsey dan Morris William Travers tahun 1898 di Inggris.
5. Xenon
(Xe)
Sejarah
Sejarah
Ditemukan pada tahun
1898 oleh Ramsay dan Travers dalam residu yang tersisa setelah menguapkan udara
cair. Xenon adalah anggota gas mulia atau gas inert. Terdapat di atmosfer kita
dengan kandungan satu bagian per dua puluh juta bagian atmosfer. Xenon terdapat
dalam atmosfer Mars dengan kandungan 0.08 ppm. Unsur ini ditemukan dalam bentuk
gas, yang dilepaskan dari mineral mata air tertentu, dan dihasilkan secara
komersial dengan ekstraksi udara cair.
Isotop
Xenon di alam terdiri
dari sembilan isotop stabil. Ada pula 20 isotop tidak stabil yang telah
dikenali. Sebelum tahun 1962, diasumsikan bahwa xenon dan gas mulia lainnya
tidak dapat membentuk senyawa. Beberapa tahun terakhir telah ditemukan bahwa
xenon, seperti halnya unsur gas mulia lainnya, memang membentuk senyawa. Di
antara senyawa xenon tersebut adalah natriun perxenat, xenon deuterat, xenon
hidrat, difluorida, tetrafluorida dan heka fluorida. Xenon trioksida, yang
sangat eksplosif, sudah dapat dibuat. Lebih dari 80 senyawa xenon telah dibuat
dengan xenon yang terikat secara kimiawi dengan fluor dan oksigen. Beberapa
senyawa xenon memiliki warna. Senyawa Xenon dengan logam telah dihasilkan
dengan menggunakan tekanan ratusan kilobar. Xenon dalam tabung vakum
menghasilkan kilau biru yang indah ketika dieksitasi dalam pelepasan muatan
listrik.
Kegunaan
Gas ini digunakan dalam
pembuatan tabung elektron, lampu stoboskopik (lampu neon yang berkedip dengan
frekuensi tertentu), lampu bakterisida, dan lampu yang digunakan untuk
mengeluarkan laser rubi yang menghasilkan sinar yang koheren. Xenon digunakan
dalam medan energi nuklir dalam bejana ggelembung udara, probe, dan penerapan
lainnya di mana dibutuhkan bobot atom tinggi. Senyawaa perxenate digunakan
kimia analisis sebagai zat oksidator. 133Xe dan 135Xe
dihasilkan oleh iradiasi neutron dalam reaktor nuklir dingin. 133Xe
memiliki banyak kegunaan sebaai isotop. Unsur ini tersedia dalam kontainer gas
dalam kaca bersegel dengan tekanan standar. Xenon tidak beracun tapi senyawanya
sangat beracun karena sifat oksidatornya yang sangat kuat.
6. Radon (Rn)
Radon (Rn) adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang
memiliki lambang Rn dan nomor atom 86. Radon juga termasuk dalam kelompok gas
mulia dan beradioaktif. Radon juga gas yang paling berat dan berbahaya bagi
kesehatan. Pada suhu dan tekanan ruang, radon tidak berwarna tetapi apabila
didinginkan hingga membeku, radon akan berwarna kuning, sedangkan radon cair
berwarna merah jingga. Radon ditemukan pada tahun 1900 oleh Friedrich Ernst
Dorn di German, yang menggelarnya sebagai pancaran radium.
Senyawa-Senyawa Gas Mulia
Pembentukan
senyawa gas mulia
Gas Mulia adalah gas yang sudah memiliki
8 elektron valensi dan memiliki kestabilan yang tinggi. Tetapi gas mulia pun
masih dapat bereaksi dengan atom lain. Karena sebenarnya tidak semua sub kuit
pada gas mulia terisi penuh.
Contoh:
Ar : [Ne] 3s2 3p6
Ar : [Ne] 3s2 3p6
Sebenarnya
atom Ar masih memiliki 1 Sub kulit yang masih kosong yaitu sub kulit d jadi
masih bisa diisi oleh atom-atom lain.
Ar :
[Ne] 3s2 3p6 3d0
Sampai
dengan tahun 1962, para ahli masih yakin bahwa unsur-unsur gas mulia tidak
bereaksi. Kemudian seorang ahli kimia kanada bernama Neil Bartlet berhasil
membuat persenyawaan yang stabil antara unsur gas mulia dan unsur lain, yaitu
XePtF6.
Keberhasilan ini didasarkan pada reaksi:
PtF6 + O2 → (O2)+ (PtF6)-
PtF6 ini
bersifat oksidator kuat. Molekul oksigen memiliki harga energi ionisasi 1165
kJ/mol, harga energi ionisasi ini mendekati harga energi ionisasi unsur gas
mulia Xe = 1170 kJ/mol.
Atas dasar
data tersebut, maka untuk pertama kalinya Bartlet mencoba mereaksikan Xe dengan
PtF6 dan ternyata menghasilkan senyawa yang stabil sesuai dengan persamaan
reaksi:
Xe + PtF6 → Xe+(PtF6)-
Setelah
berhasil membentuk senyawa XePtF6, maka gugurlah anggapan bahwa gas
mulia tidak dapat bereaksi. Kemudian para ahli lainnya mencoba melakukan
penelitian dengan mereaksikan xenon dengan zat-zat oksidator kuat, diantaranya
langsung dengan gas flourin dan menghasilkan senyawa XeF2, XeF4,
dan XeF6.
Reaksi gas
mulia lainnya, yaitu krypton menghasilkan senyawa KrF2. Radon dapat
bereaksi langsung dengan F2 dan menghasilkan RnF2. Hanya
saja senyawa KrF2 dan RnF2 bersifat (tidak stabil).
Beberapa senyawaan Xenon
|
Tingkat Oksidasi
|
Senyawaan
|
Bentuk
|
Titik Didih (˚C)
|
Struktur
|
Tanda-tanda
|
|
II
IV
|
XeF2
XeF4
|
Kristal
tak berwarna
Kristal
tak berwarna
|
129
117
|
Linear
Segi-4
|
Terhidrolisis
menjadi Xe + O2; sangat larut dalam HF
Stabil
|
|
VI
|
XeF6
Cs2XeF8
XeOF4
XeO3
|
Kristal
tak berwarna
Padatan
kuning
Cairan
tak berwarna
Kristal
tak berwarna
|
49,6
-46
|
Oktahedral
terdistorsi
Archim.
Antiprisma
Piramid segi-4
Piramidal
|
Stabil
Stabil
pada 400˚
Stabil
Mudah
meledak, higroskopik; stabil dalam larutan
|
|
VIII
|
XeO4
XeO6
4-
|
Gas
tak berwarna
Garam
tak berwarna
|
Tetrahedral
Oktahedral
|
Mudah
meledak
Anion-
anion HXeO63-, H2XeO62-,
H3XeO6- ada juga
|
Senyawa gas
mulia He dan Ne sampai saat ini belum dapat dibuat mungkin karena tingkat
kestabilannya yang sangat besar. Gas-gas ini
pun sangat sedikit kandungannya di bumi. dalam udara kering maka akan ditemukan
kandungan gas mulia sebagai berikut : Helium = 0,00052 %; Neon = 0,00182 %;
Argon = 0,934 %; Kripton = 0,00011 %; Xenon = 0,000008; Radon = Radioaktif*
Contoh
Reaksi dan cara pereaksian pada gas mulia
|
Gas
Mulia
|
Reaksi
|
Nama
senyawa yang terbentuk
|
Cara
peraksian
|
|
Ar(Argon)
|
Ar(s)
+ HF → HArF
|
Argonhidroflourida
|
Senyawa
ini dihasilkan oleh fotolisis dan matriks Ar padat dan stabil pada suhu
rendah
|
|
Kr(Kripton)
|
Kr(s)
+ F2 (s) → KrF2 (s)
|
Kripton
flourida
|
Reaksi
ini dihasilkan dengan cara mendinginkan Kr dan F2pada suhu -196 0C
lalu diberi loncatan muatan listrik atau sinar X
|
|
Xe(Xenon)
|
Xe(g) + F2(g) → XeF2(s) Xe(g) + 2F2(g) → XeF4(s) Xe(g) + 3F2(g)→ XeF6(s) XeF6(s) + 3H2O(l) → XeO3(s) +6HF(aq)
6XeF4(s)
+ 12H2O(l) → 2XeO3(s) + 4Xe(g) +
3O(2)(g) + 24HF(aq)
|
Xenon
flourida
Xenon
oksida
|
XeF2
dan XeF4 dapat
diperoleh dari pemanasan Xe dan F2pada tekanan6 atm, jika umlah peraksi F2 lebih besar maka akan diperoleh XeF6
XeO4
dibuat dari reaksi disproporsionasi(reaksi dimana unsur pereaksi yang sama
sebagian teroksidasi dan sebagian lagi tereduksi) yang kompleks dari larutan
XeO3 yang bersifat alkain
|
|
Rn(Radon)
|
Rn(g)
+ F2(g) → RnF
|
Radon flourida
|
Bereaksi
secara spontan.
|
Fluorida XeF2, XeF4,
dan XeF6 diperoleh dengan mereaksikan xenon dengan flouor dalam
kuantitas yang makin bertambah. Dalam senyawa-senyawa ini, xenon mempunyai
bilangan oksidasi genap +2, +4, dan +6, yang khas bagi kebanyakan senyawaan
xenon. Fluorida-fluorida adalah lahan permulaan untuk mensintesis senyawaan
xenon lainnya.
Satu-satunya produk yang diperoleh bila
krypton bereaksi dengan fluor adalah difluoridanya, KrF2. Tak
dikenal lain-lain keadaan oksidasi selain +2. Dari kira-kira selusin senyawaan
krypton yang dikenal, semuanya merupakan garam kompleks yang diturunkan dari
KrF2. Karena radon bersifat radioaktif dan mempunyai waktu paruh
empat hari, kekimiawiannya sukar dipelajari. Namun, eksistensi radon fluorida,
baik yang mudah menguap maupun yang tak mudah menguap, telah didemonstrasikan.
Keberadaan di alam
Gas Mulia di Alam
Komposisi Gas Mulia dalam udara kering
Sifatnya yang tidak
reaktif ini menyebabkan gas mulia ditemukan di alam sebagai atom tunggal atau
monoatomik. Sumber utama gas mulia adalah udara, kecuali untuk He dan Rn. He
lebih banyak ditemukan di gas alam, sementara Rn berasal dari peluruhan panjang
unsur radioaktif unsur uranium dan peluruhan langsung radium. Jumlahnya yang
sangat sedikit di atmosfer atau di udara membuat gas mulia disebut juga dengan
gas jarang.
Ekstraksi Gas Mulia
Gas mulia di alam berada
dalam bentuk monoatomik kerena bersifat tidak reaktif. Oleh karena itu,
ekstraksi gas mulia umumnya menggunakan pemisahan secara fisis. Perkecualian
adalah radon yang diperoleh dari peluruhan unsur radioaktif.
1. Ekstraksi He dari gas alam
Gas alam mengandung
hidrokarbon dan zat seperti CO2, uap air, He, dan pengotor lainnya. Untuk
mengekstraksi He dari gas alam, digunakan proses pengembunan (liquefaction).
Pada tahap awal, CO2¬ dan uap air terlebih dahulu dipisahkan (Hal ini karena
pada proses pengembunan, CO2¬ dan uap air dapat membentuk padatan yang
menyebabkan penyumbatan pipa). Kemudian, gas alam diembunkan pada suhu di bawah
suhu pengembunan hidrokarbon tetapi di atas suhu pengembunan He. Dengan
demikian, diperoleh produk berupa campuran gas yang mengandung 50% He, N2, dan
pengotor lainnya. Selanjutnya, He dimurnikan dengan proses antara lain:
- Proses kriogenik (kriogenik
artinya menghasilkan dingin). Campuran gas diberi tekanan, lalu
didinginkan dengan cepat agar N2 mengembun sehingga dapat dipisahkan, sisa
campuran dilewatkan melalui arang teraktivasi yang akan menyerap pengotor
sehingga diperoleh He yang sangat murni.
- Proses adsorpsi. Campuran gas
dilewatkan melalui bahan penyerap (adsorbent bed) yang secara selektif
menyerap pengotor. Proses ini menghasilkan He dengan kemurnian 99,997%
atau lebih.
2. Ekstraksi He, Ne, Ar, Kr, dan Xe dari
udara
Proses yang digunakan
disebut teknologi pemisahan udara. Pada tahap awal, CO2 dan uap air dipisahkan
terlebih dahulu. Kemudian, udara diembunkan dengan pemberian tekanan 200 atm
diikuti pendinginan cepat. Sebagian besar udara akan membentuk fase cair dengan
kandungan gas yang lebih banyak, yakni 60% gas mulia (Ar, Kr, Xe) dan sisanya
30% dan 10% N2. Sisa udara yang mengandung He dan Ne tidak mengembun karena
titik didih kedua gas tersebut sangat rendah. Selanjutnya, Ar, Kr, dan Xe dalam
udara cair dipisahkan menggunakan proses, antara lain:
- Proses adsorpsi. Pertama, O2
dam N2 dipisahkan terlebih dahulu menggunakan reaksi kimia. O¬2
direaksikan dengan Cu panas. Lalu N2 direaksikan dengan Mg. sisa campuran
(A, Xe, dan Kr) kemudian akan diadsorpsi oleh arang teraktivasi. Sewaktu
arang dipanaskan perlahan, pada kisaran suhu tertentu setiap gas akan
terdesorpsi atau keluar dari arang. Air diperoleh pada suhu sekitar -80 ,
sementara Kr dan Xe pada suhu yang lebih tinggi.
- Proses distilasi fraksional
menggunakan kolom distilasi fraksional bertekanan tinggi. Prinsip
pemisahan adalah perbedaan titik didih zat. Karena titik didih N2 paling
rendah, maka N2 terlebih dahulu dipisahkan. Selanjutnya, Ar dan O2¬
dipisahkan. Fraksi berkadar 10% Air ini lalu dilewatkan melalui kolom
distilasi terpisah dimana diperoleh Ar dengan kemurinian 98% (Ar dengan
kemurnian 99,9995% masih dapat diperoleh dengan proses lebih lanjut). Sisa
gas, yakni Xe dan Kr, dipisahkan pada tahapan distilasi selanjutnya.
Kelimpahan di Alam
Semua unsur gas mulia terdapat di udara,
kecuali radon yang merupakan unsur radioaktif. Unsur gas mulia yang paling
banyak terdapat di udara adalah argon yang merupakan komponen ketiga terbanyak
dalam udara setelah nitrogen dan oksigen. Unsur-unsur Gas Mulia, kecuali Radon,
melimpah jumlahnya karena terdapat dalam udara bebas. Argon terdapat di udara
bebas dengan kadar 0,93%, Neon 1,8×10-3%, Helium 5,2×10-4%,
Kripton 1,1×10-4%, dan Xenon 8,7×10-6%. Helium adalah
unsur terbanyak jumlahnya di alam semesta karena Helium adalah salah satu unsur
penyusun bintang. Helium diperoleh dari sumur-sumur gas alam di Texas dan
Kansas (Amerika Serikat). Helium dapat
terbentuk dari peluruhan zat radioaktif uranium dan thorium. Udara mengandung
gas Mulia (Ar, Ne, Xe, dan Kr) walaupun dalam jumlah yang kecil, gas mulia di
Industri di peroleh sebagai hasil samping dalam Industri pembuatan gas nitrogen
dan O2.
Pembuatan Gas Mulia
a. Gas Helium
Helium (He) ditemukan
terdapat dalam gas alam di Amerika Serikat. Gas helium mempunyai titik didih
yang sangat rendah, yaitu -268,8˚C sehingga pemisahan gas helium dari gas alam
dilakukan dengan cara pendinginan sampai gas alam akan mencair (sekitar -156˚C)
dan gas helium terpisah dari gas alam.
b. Gas Argon, Neon,
Kripton, dan Xenon
Udara mengandung gas
mulia argon (Ar), neon (Ne), krypton (Kr), dan xenon (Xe) walaupun dalam jumlah
yang kecil. Gas mulia di industri diperoleh sebagai hasil samping dalam
industri pembuatan gas nitrogen dan gas oksigen dengan proses destilasi udara
cair.
Pada proses destilasi
udara cair, udara kering (bebas uap air) didinginkan sehingga terbentuk udara
cair. Pada kolom pemisahan gas argon bercampur dengan banyak gas oksigen dan
sedikit gas nitrogen karena titik didih gas argon (-189,4˚C) tidak jauh beda
dengan titik didih gas oksigen (-182,8˚C). Untuk menghilangkan gas oksigen
dilakukan proses pembakaran secara katalitik dengan gas hidrogen, kemudian
dikeringkan untuk menghilangkan air yang terbentuk. Adapun untuk menghilangkan
gas nitrogen, dilakukan cara destilasi sehingga dihasilkan gas argon dengan
kemurnian 99,999%. Gas neon yang mempunyai titik didih rendah (-245,9˚C) akan
terkumpul dalam kubah kondensor sebagai gas yang tidak terkonsentrasi (tidak
mencair).
Gas kripton (Tb =
-153,2˚C) dan xenon (Tb = -108˚C) mempunyai titik didih yang lebih tinggi dari
gas oksigen sehingga akan terkumpul di dalam kolom oksigen cair di dasar kolom
destilasi utama. Dengan pengaturan suhu sesuai titik didih, maka masing-masing
gas akan terpisah.
Semua unsur gas mulia terdapat di udara, kecuali
Radon(Rn) yang hanya terdapat sebagai isotop radioaktif berumur pendek, yang
diperoleh dari peluruhan radio aktif atom radium.
Unsur radon (Rn) yang
merupakan unsur radioaktif Radium (Ra) dengan memancarkan sinar alfa (helium)
sesuai dengan persamaan reaksi:
88Ra226 → 86Rn222 + 2He4
Pembentukan
Senyawa pada Gas Mulia
Gas Mulia adalah gas yang sudah memiliki 8 elektron
valensi dan memiliki kestabilan yang tinggi. Tetapi gas mulia pun masih dapat
bereaksi dengan atom lain. Karena sebenarnya tidak semua sub kuit pada gas
mulia terisi penuh.
Contoh:
Ar : [Ne] 3s2 3p6
Ar : [Ne] 3s2 3p6
Sebenarnya
atom Ar masih memiliki 1 Sub kulit yang masih kosong yaitu sub kulit d jadi
Ar
: [Ne] 3s2 3p6 3d0
jadi
masih bisa diisi oleh atom-atom lain.
Sampai dengan tahun
1962, para ahli masih yakin bahwa unsur-unsur gas mulia tidak bereaksi.
Kemudian seorang ahli kimia kanada bernama Neil Bartlet berhasil membuat
persenyawaan yang stabil antara unsur gas mulia dan unsur lain, yaitu XePtF6.
Keberhasilan ini
didasarkan pada reaksi:
PtF6 +
O2 →
(O2)+ (PtF6)-
PtF6 ini bersifat
oksidator kuat. Molekul oksigen memiliki harga energi ionisasi 1165 kJ/mol,
harga energi ionisasi ini mendekati harga energi ionisasi unsur gas mulia Xe =
1170 kJ/mol.
Atas dasar data
tersebut, maka untuk pertama kalinya Bartlet mencoba mereaksikan Xe dengan PtF6
dan ternyata menghasilkan senyawa yang stabil sesuai dengan persamaan reaksi:
Xe + PtF6 →
Xe+(PtF6)-
Setelah berhasil
membentuk senyawa XePtF6, maka gugurlah anggapan bahwa gas mulia
tidak dapat bereaksi. Kemudian para ahli lainnya mencoba melakukan penelitian
dengan mereaksikan xenon dengan zat-zat oksidator kuat, diantaranya langsung
dengan gas flourin dan menghasilkan senyawa XeF2, XeF4,
dan XeF6.
Kegunaan Gas Mulia
Dalam kehidupan sehari-hari, unsur gas mulia digunakan
dalam rumah tangga hingga teknologi modern. Berikut beberapa kegunaan dari
unsur-unsur gas mulia:
1. Helium
Helium merupakan gas
yang ringan dan tidak mudah terbakar. Helium dapat digunakan sebagai pengisi
balon udara. Helium cair digunakan sebagai zat pendingin karena memiliki titik
uap yang sangat rendah. Helium yang tidak reaktif digunakan sebagai pengganti
nitrogen untuk membuat udara buatan untuk penyelaman dasar laut. Para penyelam
bekerja pada tekanan tinggi. Jika digunakan campuran nitrogen dan oksigen untuk
membuat udara buatan, nitrogen yang terhisap mudah terlarut dalam darah dan
dapat menimbulkan halusinasi pada penyelam. Oleh para penyelam, keadaan ini
disebut “pesona bawah laut”. Ketika penyelam kembali ke permukaan, (tekanan
atmosfer) gas nitrogen keluar dari darah dengan cepat. Terbentuknya gelembung
gas dalam darah dapat menimbulkan rasa sakit atau kematian.
2. Argon
Argon digunakan dalam
las titanium pada pembuatan pesawat terbang atau roket. Argon juga digunakan
dalam las stainless steel dan sebagai pengisi bola lampu pijar karena argon
tidak bereaksi dengan wolfram (tungsten) yang panas.
3. Neon
Neon dapat digunakan
untuk pengisi bola lampu. Neon digunakan juga sebagai zat pendingin, indikator
tegangan tinggi, penangkal petir, dan untuk pengisi tabung-tabung
televisi
4. Kripton
Kripton bersama argon digunakan sebagai pengisi
lampu fluoresen bertekanan rendah. Kripton juga digunakan dalam lampu
mercusuar, laser untuk perawatan retina
5. Xenon
Xenon digunakan untuk menghasilkan cahaya terang pada lampu blitz (flash gun), pembuatan tabung elektron, komponen reaktor nuklir. Xenon merupakan satu-satunya gas mulia yang bersifat anestesi/membius pada tekanan atmosfer.
6. Radon
Radon yang bersifat
radioaktif dahulu digunakan sebagai cat angka pada jam. Radon sekarang
digunakan untuk terapi kanker dan sistem peringatan gempa. Namun demikian, jika
radon terhisap dalam jumlah banyak, malah akan menimbulkan kanker paru-paru.
Bahaya Gas Mulia
Ancaman Radon
Indonesia, sebagai negeri vulkanik terkaya di dunia serta
daerah gempa, mempunyai potensi ancaman besar dari gas radon ini. Radon akan
mudah keluar ke permukaan berkaitan dengan aktivitas vulkanik. Pada suhu yang
tinggi, radon akan terlepas dari perangkap batuan dan keluar melalui saluran
yang ada.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh BATAN (Sjarmufni dkk)
yang dilakukan pada tahun 2001 dan 2002 di daerah Gunung Rowo dan patahan
Tempur, Muria – Jawa Tengah, menunjukkan hasil pengukuran gas radon yang cukup
signifikan. Gas tersebut terlepas sebagai akibat kegiatan magmatik dan aktivasi
patahan. Pengukuran menunjukkan bahwa aktivitas gas radon mencapai sekitar
10-50 pCi. Zona-zona patahan dan rekahan (sheared fault zone), juga perlu
diwaspadai karena merupakan jalan yang baik bagi radon untuk lepas ke
permukaan.
Radon bersifat sangat toksik, dikarenakan sifat radioaktivitasnya
yaitu sebagai pemancar zarah alfa (a). Sinar radiasi ini akan berbahaya sebagai
sumber internal, yaitu apabila kita menghirup udara (inhalasi), gas radon dapat
masuk ke dalam paru-paru kita. Selain karena radiasi alfa dari radon itu
sendiri, anak luruh radon seperti polonium yang juga radioaktif dan Pb-204 yang
bersifat toksik akan terdeposit di paru-paru. Sel didominasi oleh air, sehingga
interaksi radiasi dengan air akan menghasilkan berbagai ion, radikal bebas dan
peroksida yang bersifat oksidator kuat. Molekul-molekul protein, lemak, enzim,
DNA dan kromosom ini akan terserang oleh radikal bebas dan peroksida, dalam
proses biokimia, yang akan berakibat pada efek somatik dan genetik.
Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Bradford D.
Loucas, seorang ilmuwan dari Columbia University, Amerika Serikat, penyinaran
radiasi partikel alfa dengan energi 90 keV/mm telah mengakibatkan pengaruh yang
signifikan pada kondensasi dan fragmentasi kromosom. Bandingkan dengan partikel
alfa yang dipancarkan oleh anak luruh radon di dalam jaringan yang setara
dengan 90 sampai 250 keV/mm.
Karsinogen
Gejala yang terjadi sangat lambat, sehingga sulit untuk
mendeteksinya (no immediate symptoms). Menurut hasil penelitian di Amerika
Serikat, gas radon memberikan kontribusi terjadinya kanker paru-paru sejumlah
7000 sampai 30.000 kasus setiap tahunnya. Organisasi kesehatan dunia (WHO) dan
EPA (Environmental Protection Agency) telah mengklasifikasikan gas radon
sebagai bahan karsinogen (penyebab kanker) ”kelas A”, dan di Amerika Serikat
termasuk penyebab kanker paru kedua setelah rokok. Pernyataan ini telah
didukung oleh studi epidemiological evidence para pekerja tambang yang terpapar
radiasi dari gas radon secara lebih intensif, melalui uji cause-effect antara
paparan radon dan angka kematian kanker paru-paru (dose and respon curve).
Efek radon dalam jumlah aktivitas yang kecil (dari alam),
bersifat probabilistik (stokastik), artinya peluang atau kebolehjadian terkena
efek tergantung pada dosis yang diterima. Semakin besar dosis yang diterima,
berarti peluang terkena kanker paru-paru akan semakin besar, namun tidak ada
kepastian untuk terkena efek tersebut.
Meskipun risiko gas radon bersifat probabilistik, namun
angka penderita kanker paru-paru akibat paparan gas radon tersebut harus tetap
kita waspadai. Terlebih, kita tinggal di daerah vulkanik dan rentan gempa, yang
sangat memungkinkan terjadinya emanasi gas radon. Asap rokok dikombinasikan
dengan paparan radiasi radon akan memberikan efek sinergistik terjadinya kanker
paru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar